Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Menulis Artikel


Suatu ketika, saya diundang oleh kawan-kawan OSIS MA Al-Karimiyyah, Beraji. Saya diundang dalam acara “Pengukuhan Pengurus OSIS dan Seminar Literasi: Baca-Tulis di Kalangan Siswa”. Saya didaulat untuk mengisi bincang kepenulisan bersama K. Mohammad Musthafa, kiai produktif dari Pondok Pesantren Annuqayyah, Guluk-Guluk. Beliau, penulis kawakan yang tulisan-tulisannya tersebar di berbagai media massa, baik nasional maupun internasional. Berbagai buku telah diterbitkan oleh beliau. Sungguh suatu kehormatan dan momen yang sangat berharga bagi saya bisa satu forum dengan beliau.

Hadir dan berinteraksi dengan mereka (para siswa), mengingatkan saya pada masa-masa saya dulu masih menjadi guru SMA dan selalu berkutat dengan siswa dalam hal menulis: terutama dalam mengikuti lomba karya tulis ilmiah tingkat siswa, atau merampungkan tulisan untuk dikirim ke media, seperti Radar Madura, MPA, Horison, atau media yang lain, termasuk juga meyelesaikan penerbitan majalah sekolah dengan segala fenomenanya. Sebuah hiruk-pikuk kepenulisan yang begitu berkesan bagi saya.

Ada yang menarik ketika acara bincang literasi itu dilanjutkan dengan diskusi. Seorang siswa (salah satu anggota OSIS baru) dengan berapi-api menyampaikan bahwa dia sebenarnya memiliki gagasan, ide, dan pemikiran yang cukup banyak. Tetapi, dia masih belum bisa untuk menerjemahkan dalam bentuk tulisan, utamanya untuk menulis artikel. Ide yang banyak itu akhirnya hilang begitu saja dan tergantikan dengan berbagai fenomena lain yang tumpang tindih dalam pikirannya.

Ada juga siswa yang menanyakan bagaimana menjaga konsistensinya dalam menulis. Menurutnya, mood seseorang kadangkala naik-turun. Satu waktu, dia memiliki keinginan yang kuat dalam menulis. Di waktu yang lain, dia dibenturkan pada masa-masa jenuh untuk menulis.

Mencermati fenomena seperti ini, saya hanya memberikan pemahaman secara sederhana bahwa menulis itu bisa dikatakan sulit, atau bisa dikatakan mudah. Tergantung dari sisi mana kita menilainya. Menulis akan dikatakan sulita ketika dihadapkan pada persoalan tumpang tindik ide yang tak bisa diterjemahkan dalam tulisan dan hanya menjadi ide yang akan hilang ditelan persoalan lain yang hilir mudik dalam pikiran kita.

Tetapi, menulis akan terkesan mudah, ketika kita dihadapkan pada fenomena menulis dalam konteks: membuat/menulis pesan, atau membuat status di facebook, BBM, instagram, twitter, WA, atau apapun namanya yang berkaitan dengan medsos. Ini yang sudah sering dan familier di kalangan masyarakat kita. Semua kalangan mungkin akan populer dengan tulisan model ini.

Nah, bagaimana sebenarnya menulis yang tidak sulit dalam konteks hilir mudik ide yang ada di pikiran kita dan tidak bisa diterjemahkan dalam tulisan? Maka jawabnya sederhana pula, bahwa kita sebenarnya tidak tahu ‘jalan’ bagaimana memulainya. Persoalan apakah ide itu bisa tersalurkan atau tidak, itu tergantung bagaimana kita memulai tulisan itu. Ketika tulisan model ini dianggap sulit tanpa harus mencobanya, maka akan selamanya mindset menulis itu akan terasa sulit. Tetapi, ketika kita mau mencoba untuk memulainya, maka saya sangat yakin kita akan bisa menyalurkan ide itu menjadi tulisan. Jadi modal utamanya adalah ‘mau mencoba’ dulu untuk memulainya. Selanjutnya, bisa dipelajari jalan untuk memulainya. Ketika sudah dimulai, maka ide yang “muncrat” menjadi tulisan itu akan lancar dan mengalir begitu saja. tentunya, di sini kita juga perlu belajar bagaimana tulisan kita bisa terbaca dengan baik. Bagaimana tata bahasanya bisa logis dan sistematis. Bagaimana menempatkan titik dan koma dalam tulisan kita dengan baik. Jangan-jangan kita, misalnya, hanya mengenal koma, tanpa mengenal titik. Atau sebaliknya, hanya mengenal tituk tanpa mengenal koma. Di sinilah penempatan tanda baca itu penting untuk dipelajari.

Kembali pada fenomena memulai tulisan, sebenarnya kita bisa memulainya dengan dua hal. Pertama, definisi. Dengan definisi, berarti kita memulai dengan memberikan pengertian. Ide apa yang ada di pikiran kita , bisa dicarikan referensinya untuk didefinisikan. Banyak buku yang akan menyuguhkan definisi dari apa yang ada dalam pikiran kita. Di sinilah perlunya kita membaca berbagai literasi/buku/majalah atau diskusi dengan orang-orang yang dianggap memiliki kompetensi dalam pengetahuan yang akan kita tulis.

Misalnya kita memiliki ide/persoalan tentang mahalnya pendidikan. Maka definisi yang dimunculkan adalah definisi tentang pendidikan. Di sini, kalimat: Pendidikan adalah…, pendidikan merupakan…, pendidikan memberikan satu pemahaman…, ataupun bahasa definisi yang lain, bisa dijadikan pembuka. Semakin banyak referensi yang kita baca, maka semakin banyak pula definisi yang kita dapatkan. Ketika definisi tentang pendidikan itu sudah mulai muncul dan bisa dituliskan sebagai pembuka, barulah kita sambungkan dengan fenomena mahalnya pendidikan.

Kedua, narasi. Dalam konteks ini, tulisan kita bisa dimulai dengan bercerita. Contoh nyata dalam hal ini adalah tulisan saya ini yang dimulai dengan cerita tentang undangan mengisi seminar literasi. Jadi, apa yang kita alami dalam kehidupan sehari-hari bisa menjadi pembuka tulisan kita yang kemudian disambungkan dengan ide yang ada di pikiran kita. Apapun pengalaman itu, ketika memiliki keterkaitan dengan ide/masalah yang ada di pikiran kita, bisa dituliskan. Ini akan lebih mudah ditulis karena kita mengalami sendiri, merasakan sendiri, melihat dengan mata kepala sendiri, atau mungkin ada pengalaman orang lain yang diceritakan kepada kita sehingga kita bisa mereview pengalaman itu dalam bentuk tulisan pembuka.

Terkait bagaimana menjaga konsistensi kiat dalam menulis, saya katakana bahwa sebenarnya ada dua hal yang bisa mempengaruhinya. Pertama motivasi dari dalam diri dan motivasi dari luar diri kita/lingkungan.

Motivasi dari dalam diri biasanya muncul ketika motivasi dari luar itu kuat mendorog kita untuk menulis. Artinya ada korelasi yang signifikan antara motivasi dari luar denganmotivas dari dalam diri. Lingkungan kita, teman berinteraksi kita, komunitas kita akan memberikan pengaruh yang cukup kuat terhadap motivasi dalam diri kita. Ketika kita berinteraksi dengan lingkungan yang berkutat dengan baca-tulis, maka motivasi untuk mengarah ke baca-tulis itu akan niscaya. Tetapi, ketika kita berinteraksi dengan lingkungan yang nonliterate, maka motivasi untuk masuk dalam dunia literasi, akan sulit terbangun.

Nah, pada akhirnya, kitalah yang menentukan, akankah berinteraksi dengan komunitas baca-tulis, sehingga terbangun motivasi untuk berkutat dalam dunia literasi, atau pada pilihan menjauh dari baca-tiulis, sehingga “motivasi nonsense” yang akan “merasuki” diri kita. Semuanya ada di tangan kita. Kita bebas memilih. Tetapi sudah jelas mana yang baik dan mana yang kurang baik: motivasi baca-tulis, ataukah motivasi nonsens. Ah…!

Abd. Kadir
Abd. Kadir Kepala Bidang Pembinaan SD, Dinas Pendidikan Kab. Sumenep

24 komentar untuk "Menulis Artikel"

  1. Balasan
    1. hehehe, hanya berbagi bagaimana memulai tulisan berbentuk artikel

      Hapus
  2. Mantappp pak kabid....semoga kami bisa menjadi penulis yang handal ......

    BalasHapus
    Balasan
    1. Insyaallah bisa, semangat! πŸ˜ŠπŸ˜ŠπŸ˜ŠπŸ™

      Hapus
  3. Intinya bagaimana kita bisa "memuncratkan" ide yg hilir mudik dibenak kita. Mantap Pak Kabid...sangat menginspirasi.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahaha bahasa yg terkesan "anu", tapi itulah risiko sebuah pilihan kataπŸ˜€πŸ˜€πŸ˜€

      Hapus
  4. Balasan
    1. Mari belajar bersama kak towanπŸ‘πŸ‘πŸ‘

      Hapus
  5. Ketika saya hendak menulis sesuatu yang ada dibenak saya, entah mengapa selalu saja ada yang menutupi kelopak mata tua ini.....
    Bagaimanapun menulis itu adalah impian saya sejak masih dibangku SD....ingin menulis dan menulis....
    Sebab antara ingin dan malas selalu saja menjadi ajang pergulatan yang begtu dahsyat di otak dan sendi2 jari jemari saya....
    mohon tipsnya pak Kabid bagaimana caranya saya supaya menang dari kemalasan saya....πŸ˜€πŸ™

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nah, memberi komentar seperti ini adalah awal dari kekuatan menulis kita pak. Dari diskusi singkat ini, berawal dari tulisan saya, sampyan bisa meramu jadi tulisan baru. Selamat mencoba, meski hanya beberapa paragraf sajaπŸ‘πŸ‘πŸ‘πŸ™πŸ™

      Hapus
  6. Kalau menulis dijadikan kebutuhan, maka tidak ada alasan untuk tidak menulis. Menulis apa saja, yang penting tulis dulu, nanti akan menemukan jalannya tersendiri pada genre apa yang paling cocok.
    Upss, maaf pak Kabid sayapun masih belajar

    BalasHapus
    Balasan
    1. Mantap pak! Yang penting 'mau' menulis dulu.
      Kita sama-sama belajar pak, hehehe

      Hapus
  7. Menulis itu sklil jadi tanpa asah dan asuh tidak akan terjad.
    Lalu bagaimana mengasah terutama memulai menulis? Perlu asuh dari orang yang berkompeten seperti P Kabid πŸ™

    BalasHapus
    Balasan
    1. hehehe, saling asah-asuh bu, karena saling belajar

      Hapus
  8. Mantap menginspirasi, setelah baca artikelnya pingin rasanya mau memulai utk menulis dari pengalaman nyata yg kita alami tapi terkadang juga timbul rasa malas, ketika tulisan itu belum sampai selesai kita tulis. Bagaimana solusinya p.kabid..??

    BalasHapus
    Balasan
    1. kalau masih, belum selesai, tapi mood sudah menurun, tinggalkan dulu. bawa aktivitas yang bisa merefrresh pikiran kita. kalau sudah fresh, baru mulai lagi.
      atau bisa diskusikan dengan orang yang dianggap bisa memberikan solusi, hehehe.
      Selamat mencoba!

      Hapus
  9. Wah...mantap pak Haji, mengalir bagai air di pegunungan. Bening , mengalir lancar tanpa hambatan...

    BalasHapus
Tema atau Template Blogger Terbaik.
Template Blogger Terbaik Rekomendasi