Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Jaminan Sosial dalam Islam

 


Kita mungkin akan menghadapi kondisi yang sulit dalam waktu yang lama. Sebab, pandemi belum juga hengkang dari bumi ini.  Sementara kita, para laki-laki punya tanggung jawab untuk menghidupi keluarga, mencari nafkah. Sesulit apapun kondisinya, haram bagi kita menelantarkan anggota keluarga kita.

Nabi SAW bersabda:

كَفَى بِالْمَرْءِ إِثْمًا أَنْ يَحْبِسَ، عَمَّنْ يَمْلِكُ قُوتَهُ

Cukuplah seseorang dinilai berdosa saat dia tidak memenuhi kebutuhan orang-orang yang berada di bawah tanggungannya

(HR Muslim).

Tidak semua keluarga mampu mencukupi kebutuhan hidupnya. Maka uluran tangan dari sesama Muslim sangat diperlukan.  Di tengah kondisi seperti ini, kita diperintahkan untuk peduli dan tolong-menolong.

Orang-orang yang mengaku beriman kepada Allah SWT dan Hari Akhir diingatkan oleh Nabi SAW agar berjiwa pemurah dan gemar memberikan bantuan kepada sesama Muslim. Bagi mereka ada ganjaran yang besar di sisi Allah SWT. Sabda Nabi SAW:

مَنْ نَفَّسَ عَنْ مُؤْمِنٍ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ الدُّنْيَا نَفَّسَ اللَّهُ عَنْهُ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ يَوْمِ الْقِيَامَةِ، وَمَنْ يَسَّرَ عَلَى مُعْسِرٍ يَسَّرَ اللَّهُ عَلَيْهِ فِى الدُّنْيَا وَالآخِرَةِ

Siapa saja yang melepaskan kesusahan seorang Muslim di dunia, Allah akan melepaskan kesusahan dari dia pada Hari Kiamat. Siapa yang memudahkan seorang Muslim yang sedang kesulitan maka Allah akan memudahkan kesulitannya di dunia dan akhirat

(HR Muslim).

Ingatlah, di dalam harta kita ada hak orang lain, yakni orang yang meminta-minta karena kebutuhan, dan mereka yang terhalang mendapatkan harta. Maka, jangan ragu mengeluarkan sebagian harta demi menolong sesama. Allah SWT berfirman:

وَفِي أَمْوَالِهِمْ حَقٌّ لِلسَّائِلِ وَالْمَحْرُومِ

Pada harta-harta mereka ada hak untuk orang miskin yang meminta-minta dan orang miskin yang tidak mendapat bagian (TQS adz-Dzariyat [51]: 19).

Tentu tidak semua kesulitan di tengah masyarakat bisa kita atasi. Karenanya, Islam mewajibkan negara bertanggung jawab penuh menjamin kehidupan sosial rakyatnya. Bukan sekadar menyediakan stok pangan atau obat-obatan. negara juga wajib memastikan bahwa semua rakyat dapat memenuhi kebutuhan pokoknya, baik dengan harga yang terjangkau, dan atau memberi mereka secara cuma-cuma, terutama warga yang tidak mampu. Inilah ajaran Islam.

Nabi yang dulu memimpin negara Madinah berpesan kepada warga negaranya:

وَمَنْ تَرَكَ دَيْنًا أَوْ ضَيَاعًا فَلْيَأْتِنِى فَأَنَا مَوْلاَهُ

Siapa (yang mati) dan meninggalkan utang atau tanggungan, hendaklah ia mendatangi aku karena aku adalah penanggung jawabnya (HR al-Bukhari).

Demikian pula, pada masa Khulafaur Rasyidin, jaminan sosial ini dilaksanakan dengan sempurna. Di zaman Khalifah Umar bin al-Khaththab ra, ketika ada paceklik berkepanjangan pada tahun 18 hijriyah sehingga terjadi kelaparan di mana-mana, ribuan orang berbondong-bondong datang ke Ibukota Madinah. Mereka meminta bantuan negara. Khalifah Umar ra bergerak cepat dengan menyediakan dapur massal. Beliau meminta bantuan pasokan pangan dari para gubernurnya di luar Madinah.  Bantuan pun datang dari berbagai wilayah negara.      

Dalam pandangan Islam, jika kas negara atau baitul mal tidak mencukupi kebutuhan darurat, Negara diizinkan memungut pajak (dharibah) untuk memenuhi kebutuhan rakyat. Namun, pungutan pajak ini bersifat temporer. Hanya saat mendesak/darurat. Dan tidak diperuntukkan bagi setiap orang. Hanya kaum Muslim yang kaya yang dikenakan pajak. Hebatnya lagi, warga non-Muslim sama sekali tidak dipungut pajak, sekalipun ia kaya.

Sabda Nabi saw. :

خَيْرُ الصَّدَقَةِ مَا كَانَ عَنْ ظَهْرِ غِنَى

Sedekah yang paling baik adalah yang berasal dari orang kaya

(HR al-Bukhari).

Bahkan di zaman Khalifah Umar bin Khaththab, sejarah mencatat Sayyidina Umar menjadi kurus dan kulitnya menghitam karena lebih sering berada di luar melayani rakyat ketimbang di dalam ruangan atau rumahnya.

Jangankan melakukan korupsi, Khalifah Umar ra tak sudi memakan makanan yang lebih enak dibandingkan makanan yang disantap rakyatnya pada masa sulit. Pada masa paceklik, beliau hanya makan pakai minyak biasa. Dia mengharamkan atas dirinya menggunakan minyak Samin. Beliau pun menekan perutnya dengan jari-jari seraya berkata, "Berbunyilah, engkau tidak akan mendapatkan selain minyak ini sampai semua orang bisa hidup dengan layak."

Inilah cara Islam menjamin kebutuhan rakyatnya. Tidak ada model penyelesaian seperti ini dalam sistem dan agama mana pun.

WalLahu A’lam bisshawab

 

Roes
Roes Guru Pembelajar Sumenep

2 komentar untuk "Jaminan Sosial dalam Islam"

  1. Mantap Ustad...jadi pajak temporer dan hanya untuk orang Islam yang kaya ya. Bagaimana dengan NKRI ?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Pajak bg kaum muslimin terkategori infaq, sdg bagi Non Muslim yg mampu ada kewajiban khusus namanya Jizyah. Konsep pajak yg diterapkan saat ini lebih mengadopsi konsep barat. Wallahu A'lam

      Hapus
Tema atau Template Blogger Terbaik.
Template Blogger Terbaik Rekomendasi