Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Perbedaan antara Jilbab dan Kerudung

Tak henti-hentinya para pembenci Islam meniupkan mantra-mantra sesat ke tengah-tengah umat ini. Jilbab—sebutan salah kaprah yang sudah kadung dipahami oleh masyarakat—dipermasalahkan. Ini gara-gara ada kasus jilbab di Padang, Sumatera Barat.  Kasus ini dipolitisasi seolah-olah ada pemaksaan penggunaan jilbab bagi siswi non-Muslim. Padahal fakta menunjukkan tak ada pemaksaan itu, bahkan banyak siswi non-Muslim mengenakannya dengan sukarela dan tak mempermasalahkan.

Para pengidap Islam fobia inilah yang sering berteriak-teriak intoleran kepada kaum Muslim jika “korban”-nya non-Muslim. Sebaliknya, mereka bungkam saat banyak tindakan intoleransi yang korbannya adalah kaum Muslim. Lihatlah saat siswi Muslimah dipaksa melepaskan jilbabnya di Bali, juga di Papua. Mereka diam seribu bahasa.

Dalam Islam, lelaki Muslim maupun wanita Muslimah yang telah dewasa wajib menutup aurat. Kewajiban menutup aurat ini telah disebutkan di dalam al-Quran. Di antaranya QS al-A'raf [7]: 26. Menurut Imam asy-Syaukani, jumhur ulama berpendapat bahwa ayat ini merupakan dalil atas kewajiban menutup aurat dalam setiap keadaan (Asy-Syaukani, Fath al-Qadir, 2/200).

Selain dalil al-Quran di atas, dalam as-Sunnah juga terdapat sejumlah hadis yang menunjukkan kewajiban menutup aurat baik atas laki-laki maupun perempuan. Khusus terkait Muslimah, Rasulullah SAW, antara lain, bersabda:

إِنَّ الجَارِيَةَ إذَاحاضَتْ لَمْ يَصْلُحْ أنْ يُرَى مِنْها إلاَّ وَجْهُهَا وَيَدَاها إلىَ الْمِفْصَلْ

Sungguh seorang anak perempuan, jika telah haid (balig), tidak boleh terlihat dari dirinya kecuali wajah dan kedua tangannya hingga pergelangan tangan (HR Abu Dawud).

Wanita Muslimah wajib menutup aurat dengan mengenakan kerudung dan jilbab saat keluar rumah. Kewajiban memakai kerudung tertuang dalam firman Allah SWT:  

وَقُلْ لِلْمُؤْمِنَاتِ يَغْضُضْنَ مِنْ أَبْصَارِهِنَّ وَيَحْفَظْنَ فُرُوجَهُنَّ وَلَا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَلْيَضْرِبْنَ بِخُمُرِهِنَّ عَلَى جُيُوبِهِنَّ

Katakanlah kepada para wanita Mukmin, "Hendaklah mereka menahan pandangan dan memelihara kemaluan mereka. Janganlah mereka menampakkan perhiasan (aurat) mereka, kecuali yang (biasa) tampak pada dirinya. Hendaklah mereka menutupkan kain kerudung ke dada-dada mereka…” (QS an-Nur [24]: 31).

Dalam ayat ini, terdapat kata khumur yang merupakan bentuk jamak (plural) dari kata khimar. Khimar adalah apa saja yang dapat menutupi kepala (ma yughaththa bihi ar-ra`su) (Ath-Thabari, Tafsir Ath-Thabari, XIX/159). Dengan kata lain, khimar adalah kerudung.

Kewajiban berjilbab sendiri terdapat dalam firman Allah SWT:

يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ قُلْ لِأَزْوَاجِكَ وَبَنَاتِكَ وَنِسَاءِ الْمُؤْمِنِينَ يُدْنِينَ عَلَيْهِنَّ مِنْ جَلَابِيبِهِنَّ

Hai Nabi, katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan para wanita Mukmin, "Hendaklah mereka mengulurkan jilbab mereka ke seluruh tubuh mereka..."  (QS al-Ahzab [33]: 59).

Bagaimana kemudian pakaian non-Muslim dalam pandangan Islam. Memang, non-Muslim disebut ahludz dzimmah dibiarkan memeluk aqidah dan menjalankan ibadahnya masing-masing. Begitu juga dalam hal makanan, minuman dan pakaian. Mereka diperlakukan sesuai dengan agama mereka, dalam batas yang diperbolehkan oleh syariat Islam.

Hanya saja mereka terikat dengan dua batasan. Pertama: Batasan menurut agama mereka. Kedua: Batasan yang ditetapkan oleh syariat Islam, yaitu hukum-hukum kehidupan umum yang mencakup seluruh rakyat, baik Muslim maupun non-Muslim, untuk laki-laki dan perempuan.

Jadi pada dasarnya pakaian mereka dalam kehidupan umum adalah sama dengan perempuan Muslim. Pakaian sesuai agama mereka hanyalah pengecualian. Ketentuan pakaian dalam kehidupan umum ini berlaku atas seluruh individu rakyat. Tidak dikecualikan untuk non-Muslim kecuali pakaian yang sesuai agama mereka. Selain itu, mereka wajib menutup aurat, tidak ber-tabarruj dan wajib mengenakan jilbab dan kerudung.

Inilah yang terjadi sepanjang sejarah umat Islam,  pakaian perempuan Muslim maupun non-Muslim dalam kehidupan umum diatur sesuai syariat Islam.

WalLahu A’lam bisshawab

 

Roes
Roes Guru Pembelajar Sumenep

3 komentar untuk "Perbedaan antara Jilbab dan Kerudung "

  1. Mantap Ustad, kopinya sudah habis diseruput sampai tuntas. Mudah-mudahan bisa meluruskan yang bengkok, menguatkan yang lemah. Terimakasih copi paginya, smg Allah membalas yg lebih baik dan menjadi amal jariyah karenanya. Aamiin🤲

    BalasHapus
  2. Alhamdulillah masih ada yg mau meluruskan......amiin amiin...yra

    BalasHapus
Tema atau Template Blogger Terbaik.
Template Blogger Terbaik Rekomendasi